Sabtu, 31 Januari 2026 – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) STIT Madani Yogyakarta mengadakan kegiatan Kuliah Tamu secara daring melalui platform Zoom Meeting dengan menghadirkan narasumber Hikmawati Rahayu, MSc., PhD Candidate, Doctoral Student (Teacher Education and Policy) dari Beijing Normal University.

Kegiatan ini mengusung tema adaptasi kebijakan pendidikan global dalam konteks Indonesia untuk menghadapi tantangan, memanfaatkan peluang, dan meningkatkan daya saing bangsa. Melalui kuliah tamu ini, Program Studi PBA bertujuan memperluas wawasan global mahasiswa serta mendorong pola pikir yang lebih terbuka terhadap dinamika pendidikan internasional. Disampaikan bahwa kebijakan pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku generasi dan perubahan sosial, baik secara nasional maupun global. Oleh karena itu, mahasiswa PBA diharapkan memiliki perspektif luas dan kesiapan berkiprah sebagai pendidik tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di ranah internasional.

Pada sesi pemaparan, narasumber, Hikmawati Rahayu, MSc,phD Candidate Doctoral Student (Teacher Education And Policy) Beijing Normal University membuka materi dengan mengajak mahasiswa melakukan refleksi kritis terhadap relevansi kurikulum Indonesia dalam menghadapi era Artificial Intelligence. Beliau menekankan bahwa perkembangan AI tidak menunggu kesiapan kita; justru AI menyediakan alat percepatan agar mahasiswa dapat berkembang dari kondisi apa pun. Oleh karena itu, penting untuk menilai apakah kurikulum saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja 5–10 tahun mendatang, terutama terkait penguasaan teknologi, kolaborasi lintas disiplin, dan kompetensi bahasa asing.
Narasumber kemudian memaparkan tren pendidikan global yang tengah berkembang di universitas-universitas terkemuka dunia. Kampus-kampus seperti Oxford dan Stanford telah memanfaatkan tutor AI 24 jam untuk mendampingi mahasiswa secara personal. Banyak negara maju, seperti Finlandia dan Amerika Serikat, juga telah menjadikan literasi AI dan etika penggunaannya sebagai mata kuliah wajib. Selain itu, konsep pembelajaran global semakin terbuka melalui platform seperti Coursera for Campus, yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari profesor universitas top dunia. Tren ini mendorong perguruan tinggi menekankan kemampuan yang tidak dapat digantikan oleh mesin, seperti berpikir kritis, kreativitas, empati, dan kecerdasan emosional.

Dalam konteks Indonesia, narasumber menjelaskan bahwa tantangan terbesar terletak pada ketimpangan geografis, kesiapan guru dalam mengintegrasikan teknologi, kurikulum yang masih terlalu padat konten, serta budaya belajar yang masih berorientasi nilai. Hanya sebagian kecil guru yang merasa percaya diri menggunakan teknologi untuk membuat pembelajaran interaktif, sementara mahasiswa sering terjebak pada mindset “takut salah” sehingga kurang memanfaatkan AI secara optimal sebagai alat pendukung belajar.
Sebagai solusi, narasumber menekankan pentingnya strategi pengembangan diri agar mahasiswa mampu bersaing secara global. Mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan ijazah, tetapi perlu membangun portofolio kompetensi melalui micro-credentials dan proyek digital bersertifikat internasional. Penguasaan bahasa asing terutama Inggris, Arab, dan Mandarin-juga menjadi syarat penting untuk berkolaborasi dalam ekosistem global. Selain itu, mahasiswa didorong untuk memanfaatkan AI sebagai mitra belajar personal serta mengembangkan kemampuan komunikasi lintas budaya agar mampu menghadapi persaingan global yang semakin terbuka.

Penulis : Sheyla Auliah Lesmana & Naswa Zaini Ihsan (PBA 2023)
Editor: Nendi Firmansyah (PBA 2023)
